26 Februari 2012

TERAPI PSIKOSOSIAL (Reinforcement)


Reinforcement

A. Reinforcement
1. Definisi
Reinforcement merupakan peristiwa khusus dari perilaku, yang diikuti dengan konsekuensi, di mana konsekuensi tersebut akan memperkuat perilaku. Seseorang yang mendapatkan reinforcement akan cenderung mengulang perilaku yang sama di masa mendatang. Operant behavior yang terjadi dalam sebuah lingkungan akan menghsilkan sebuah konsekuensi. Konsekuensi yang memperkuat operant behavior disebut reinforcer.
Contoh:
Mahasiswa menemui kesulitan dalam belajar, setelah bertanya pada temannya, ia tertolong. Selanjutnya, ia akan bertanya kepada teman saat menemui kesulitan kembali, walaupun temannya belum tentu dapat menjawab. Dosen tersenyum kepada mahasiswa dan menghargainya karena mau duduk di depan. Hasilnya, mahasiswa tersebut lebih memilih untuk duduk di depan.
2. Reinforcement positif dan negatif
Reinforcement positif: Suatu stimulus (benda/kejadian) dihadirkan menyertai suatu perilaku yang menyebabkan perilaku tersebut meningkat dan terpelihara.
Reinforcement negatif : Meningkatnya kemungkinan berulangnya perilaku karena terhindar / dihilangkan dari stimulus yang tidak menyenangkan. Bukan hukuman bagi pelakunya, tetapi dapat menjadi hukuman bagi orang yang dihindari.
Stimulus : objek atau kejadian yang dapat dideteksi seseorang dengan panca inderanya, dan lalu memiliki pengaruh yang besar terhadap orang tersebut. Objek berasal dari lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Dalam reinforcement positif, stimulus yang diberikan setelah perilaku, disebut positive reinforcer. Dalam reinforcement negatif, stimulus yang dipindah atau dihilangkan setelah perilaku disebut aversive stimulus.
Reinforcement negatif berbeda dengan hukuman (punishment). Reinforcement negatif, sama seperti reinforcement positif, akan memperkuat terbentuknya perilaku. Hukuman, akan memperlemah terbentuknya perilaku. ‘negatif’ bukan berarti buruk, namun lebih berarti ‘penghilangan’ stimulus setelah perilaku.
Reinforcement negatif : meningkatkan frekuensi atau probabilitas perilaku tertentu, dengan cara menyingkirkan sesuatu yang buruk.
Contoh : karyawan akan bekerja keras jika mendapat izin cuti sebagai reward. Seseorang memiliki fobia ular, namun ia harus bekerja di toko hewan. Akhirnya ia ditempatkan di bagian hewan unggas (burung, ayam). Ia pun dapat bekerja dengan nyaman karena tidak perlu berinteraksi dengan ular.
Kesimpulan : reinforcement positif merupakan sesuatu yang diberikan untuk membentuk & mempertahankan perilaku. Reinforcement negatif merupakan sesuatu yang disingkirkan untuk membentuk & mempertahankan perilaku. Punishment: sesuatu yang diberikan untuk menghentikan/menghapus perilaku.
3. Escape & avoidance behaviors
Dalam reinforcement negatif terdapat 2 jenis perilaku yang terbentuk, yaitu Escape behavior dan Avoidence behavior. Dalam escape behavior, seseorang menghindari stimulus yang tidak menyenangkan (aversive stimulus) dengan cara menjalankan perilaku tertentu untuk mencari jalan keluar. Dalam avidence behavior, seseorang menghindari aversive stimulus dengan cara menjalankan perilaku khusus untuk mencegah, dan perilaku tersebut diperkuat.
Contoh:

Escape
Avoidance
Perilaku 1
Seseorang dengan kaki
Lain kali seseorang

telanjang menginjak aspal
menggunakan sepatu

panas, dan tiba-­?tiba
ketika berjalan di atas

melangkah menuju
aspal panas. Perilaku

rumput. Perilaku tersebut
memakai sepatu

terbentuk sebagai hasil
merupakan cara

menghindari panasnya aspal
mencegah rasa panas
Perilaku 2
Anda menjalankan mesin
Anda menurunkan volume

mobil dan terkejut mendengar suara radio
radio di dalam mobil, sebelum menyalakan

mobil yang tiba-­?tiba keras.
mesin. Anda mencegah

Anda kemudia
terjadinya suara keras

menurunkan volume radio
yang muncul tiba-­?tiba
Perilaku 3
Anda duduk dalam
Anda masuk ke dalam

bioskop di dekat anak-­?
gedung bioskop dan

anak yang ramai dan
memilih kursi yang jauh

cerewet. Suara mereka
dari gerombolan anak­?-

mengganggu dan anda
anak. Anda menghindari

pindah tempat duduk untuk menghindari suara brisik
anak-­?anak tersebut.
4. Conditioned & unconditioned reinforcers
Reinforcers alami disebut sebagai unconditioned reinforcers karena memiliki fungsi sebagai reinforcers sejak pertama kali diberikan kepada manusia, dan tidak perlu ada pengalaman terlebih dahulu untuk menjadikannya sebagai reinfocement.
Contoh :
makanan, air, dorongan seksual, yang berkontribusi bagi manusia dalam bertahan hidup. Unconditiones reinforcers disebut juga primary reinforces.
Conditioned reinforcers : merupkan sebuah stimulus/konsekuensi yang pada awalnya bersifat netral dan tidak berfungsi memperkuat perilaku, namun dapat menjadi reinforcers (penguat) melalui cara dipasangkan dengan unconditioned reinforcers. Contoh : uang sebagai alat memenuhi kebutuhan makanan, minum, dll.
Ketika conditioned reinforcer dipasangkan dengan berbagai macam reinforcers lain, itu disebut generalized conditioned reinforcer. Uang adalah reinforcer kuat bagi setiap orang, namun jika jumlahnya sudah b erlebihan, maka ‘nilai’ uang akan mengalami penurunan. Dengan kata lain, uang kehilangan peran sebagai reinforcer. Contoh lain : token ekonomi poin.
5. Faktor-­faktor yang mempengaruhi efektivitas reinforcement
a. Immediacy
Stimulus akan menjadi lebih efektif sebagai reinforcer ketika segera diberi setelah perilaku seseorang terbantuk.
b. Contingency
Stimulus akan menjadi lebih efektif sebagai reinforcer ketika menjadi satu kesatuan dengan perilaku yang terbentuk. Ada konsistensi dalam pemberian konsekuensi.
c. Establising operations
Pengurangan atau kejadian lain, terkadang dapat menjadikan sebuah stimulus sebagai reinforcer pada waktu-­?waktu tertentu. Contoh : pemberian makan terhadap orang kenyang dan orang lapar. Kejenuhan (station) dapat menyebabkan sebuah stimulus kehilangan perannya sebagai reinforcer.
d. Individual diffecences
Reinforcers berbeda dan bervariasi pada setiap orang.
e. Magnitude
Semakin kuat stimulus, semakin efektif perannya sebagai reinforcers (penguat perilaku). Contoh : keluar dari gedung pada saat hawa panas & terjadi kebakaran.
6. Jadwal reinforcement
Jadwal terus menerus (con tinous) : perilaku cepat terbentuk dan cepat terhapus ketika reinforcer (penguat/pengukuh) dihapus. Jadwal berselang/sebagian (partial) : lebih efisien, mampu memelihara perilaku yang telah terbentuk, menghindari kejenuhan. Contoh : mesin judi dan mesin minuman kaleng.
a. Fixed ratio
Reinforcer diberikan setelah sejumlah respon. Contoh buruh pabrik rokok mendapatkan makan siang atau mendapatkan poin token setelah berhasil menyelesaikan 100 bungkus rokok.
b. Variable ratio
Reinforcer diberikan setelah beberapa respon, setiap kali jumlah respon berbeda. Contoh para penjudi yang mendapatkan jackpot setelah beberapa kali bermain.
c. Fixed interval
Reinforcer diberikan pada waktu tertentu atau dalam jangka waktu tetap. Perilaku muncul dengan frekuensi tinggi menjelang tenggang waktu pemberian reinforcer. Contoh : gaji karyawan tiap awal bulan.
d. Variable interval
Reinforcer diberikan dalam jangka w aktu berbeda-­?beda. Perilaku akan meningkat dengan teratur, dan tidak memiliki ‘tombol on-­?off’. Contoh sidak atasan terhadap bawahan dalam jangka waktu yang berbeda-­?beda, dan pemberian token poin jika karyawan ada di tempat saat sidak.
Oleh: lutfifauzan | Desember 1, 2009

TEKNIK REINFORCEMENT DALAM KONSELING

Oleh: Rian Rokhmad Hidayat, Nur Rahayu, Muwakidah

A. KONSEP DASAR

Reinforcement Theory ini merupakan suatu pendekatan psikologi yang sangat penting bagi manusia.Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang itu dapat menentukan, memilih dan mengambil keputusan dalam dinamika kehidupan. Teori ini bisa digunakan pada berbagai macam situasi yang seringkali dihadapi manusia.
Reinforcement Theory ini mengatakan bahwa tingkah laku manusia itu adalah hasil kompilasi dari pengalaman-pengalaman yang ia temui sebelumnya,
atau dalam bahasa lainnya disebut “Consequences influence behavior”.Contoh yang paling mudah yang bisa gambarkan disini adalah bagaimana sikap yang diambil oleh seorang anak di dalam panti. Asumsikan bahwa orang tua asuh sudah menjelaskan seperangkap aturan yang harus ditaati oleh anak di dalam panti. Suatu ketika, anak berteriak di dalam panti. Maka orang tua asuh langsung memberikan hukuman kepada anak tersebut. Dari hukuman itu, si anak tadi akan merubah sikapnya untuk tidak berteriak lagi. Juga demikian, kepada anak yang tekun mengikuti kegiatan di dalam panti, maka sang orang tua asuh memberikan kepada mereka semacam hadiah atau penghargaan. Jika sistem ini berjalan dalam jangka waktu tertentu, maka keadaan siswa tadi pasti akan konvergen untuk mengambil sikap yang baik di dalam panti.

Dalam Reinforcement Theory, terdapat 3 konsekuensi yang berbeda, yaitu:
1. Konsekuensi yang memberikan reward
2. Konsekuensi yang memberikan punishment
3. Konsekuensi yang tidak memberikan apa -apa
Seorang anak  yang bersikap baik di dalam panti, ia akan mendapatkan reward. Dengan reward itu, ia akan bersikap lebih baik lagi. Jika ia bersikap lebih baik lagi, ia akan mendapatkan reward lagi. Demikian seterusnya yang terjadi sehingga ia pasti akan semakin konvergen dalam bersikap baik di dalam panti. Sebaliknya, jika ia bersikap buruk, maka ia akan menerima punishment. Dengan punishment itu, ia akan merubah sikapnya. Jika punishment itu tidak cukup untuk membuatnya berubah, maka ia akan mendapatkan punishment lagi, sehingga dalam batasan tertentu, ia pasti akan berubah sikap yang hasilnya adalah ia akan mendapatkan reward. Demikian seterusnya, sehingga pada suatu saat nanti, ia akan konvergen bersikap baik di dalam panti.

Ini adalah teori yang luar biasa dalam menjelaskan dynamic system pada real system. Coba bayangkan pada kasus diatas. Seandainya saja anak tersebut berteriak dan ia mendapatkan punishment, maka bisa jadi punishment itu tidak berpengaruh pada dirinya. Atau sebaliknya, punishment itu sangat berpengaruh pada dirinya, sehingga ia menjadi sangat malu, dan akhirnya bunuh diri!. Juga demikian dengan bagaimana memodelkan bentuk konsekuensi yang tepat, baik dari segi kategori konsekuensi maupun dari segi intensitas konsekuensi. Kesulitan yang lainnya adalah bagaimana memodelkan sistem yang dinamik dalam aturan-aturan Reinforcement Theory.

Sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa Reinforcement Theory itu bukan merupakan teori yang sederhana, akan tetapi merupakan teori yang sangat kompleks
Reinforcement adalah penguatan suatu reaksi.
Ada tiga macam reinforcement yaitu :

1. Positive Reinforcement
2. Conditioned Reinforcement
3. Intermittent Reinforcement
1. Positive Reinforcement
Adalah suatu peristiwa yang bila hadir mengikuti suatu perilaku tertentu dapat menyebabkan perilaku tersebut akan diulangi.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keefektifan reinforcement positif, yaitu:

a. Memilih perilaku yang akan ditingkatkan

Perilaku yang akan dikukuhkan harus diidentifikasi secara spesifik. Hal ini akan membantu untuk memastikan reliabilitas dari deteksi contoh dari perilaku dan perubahan frekuensinya. Serta meningkatkan perilaku kemungkinan program reinforcement ini dilakukan secara konsisten.

b. Memilih reinforcer
Berbeda individu, kemungkinan reinforcer yang digunakan juga berbeda. Ada juga reinforcer yang merupakan reinforcer bagi semua orang.
Lima macam reinforcer yaitu :

1) Consumable reinforcer – makanan, minuman
2) Activity reinforcer – hobi, olahraga, belanja
3) Manipulative reinforcer – bersepeda, menggunakan internet
4) Possesional reinforcer – gelas kesayangan, baju favorit
5) Social reinforcer – pujian, pelukan, senyum

c. Membangun pelaksanaan
Makin lama periode deprivasi, maka reinforcer akan makin efektif. Deprivasi adalah selang waktu training sebelumnya, di mana individu tidak menerima reinforcer.
Satiasi adalah kondisi di mana individu menerima reinforcer terlalu banyak sehingga reinforcer tidak lagi mengukuhkan.
d. Ukuran reinforcer
Ukuran atau jumlah reinforcer merupakan ukuran yang penting dalam efektivitas reinforcer. Jumlah reinforcer cukup untuk menguatkan perilaku yang ingin ditingkatkan, namun jangan berlebihan untuk menghindari satiasi.

e. Pemberian reinforcer
Reinforcer harus diberikan segera setelah perilaku muncul. Ada dua macam prinsip, yaitu the direct acting effect dan the indirect acting effect.

f. Penggunaan aturan
Instruksi dapat memfasilitasi perubahan perilaku dalam beberapa cara yaitu : instruksi akan mempercepat proses belajar individu yang mengerti, instruksi dapat mempengaruhi individu untuk berusaha bagi reinforcement yang ditunda, dan dapat membantu mengajar individu (seperti anak kecil atau orang yang mengalami hambatan perkembangan) untuk mengikuti instruksi.

g. Contingent vs Noncontingent Reinforcement
Reinforcement contingent : reinforcer tergantung pada perilaku
Reinforcement noncontingent : reinforcer diberikan pada waktu tertentu dan tidak tergantung pada perilaku

h. Memindahkan individu dari program dan menggantinya dengan reinforcement yang natural
Setelah ada penguatan perilaku melalui penggunaan reinforcement positif, ada kemungkinan bagi reinforcer dari lingkungan alami individu untuk mengambil alih pemeliharaan perilaku tersebut.


2. Conditioned Reinforcement
a. Unconditioned reinforcer
Suatu stimulus yang menguatkan perilaku tertentu tanpa dikondisikan lebih dahulu.
b. Conditioned reinforcer
Stimulus yang awalnya bukan reinforcer, tapi kemudian diasosiasikan dengan reinforcer lain (back up reinforcer)
Faktor – faktor yang mempengaruhi conditioned reinforcer :
1) Kekuatan back up reinforcer
2) Macam back up reinforcer ; simple conditioned reinforcer dan generalized conditioned reinforcer
3) Schedule back up reinforcer
Contoh conditioned reinforcement : setiap siswa yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan sekolah akan mendapatkan poin. Ketika poin yang terkumpul sejumlah tertentu, siswa akan memperoleh hukuman yang telah disepakati terlebih dahulu.
3. Intermittent Reinforcement
Adalah pemeliharaan perilaku dengan memberikan reinforcer sewaktu – waktu daripada memberikannya setiap saat perilaku muncul.
Keuntungan intermittent reinforcement :
1. reinforcer tetap efektif dalam waktu yang lebih lama daripada continuous reinforcement
2. perilaku yang diberi intermittent reinforcement cenderung lebih lama hilang daripada yang diberi continuous reinforcement
3. individu bekerja lebih konsisten
4. perilaku yang diberi intermittent reinforcement berlangsung dengan cepat ketika dipindah ke reinforcer dalamlingkungan yang alami.
Ada empat tipe jadwal :
1. ratio schedule
- fixed ratio contoh setiap meminjam dua film di rental dapat bonus satu
- variable ratio contoh mesin judi koin
2. simple interval schedule
- fixed interval contoh gaji pegawai yang dibayar setiap bulan
- variable interval contoh menggunakan internet, semakin lama semakin mahal
3. interval schedule with limited hold
- fixed interval hold dengan limited hold contoh toleransi keterlambatan masuk kelas
- variable interval dengan limited hold contoh menelepon ketika jaringan sibuk, kita tidak tau kapan telepon akan masuk
4. duration schedule
- fixed duration schedule : pekerja yang dibayar per jam
- variable duration menunggu jalanan hingga agak sepi agar dapat menyeberang
B. KARAKTERISTIK
Penguatan adalah semua peristiwa yang terjadi dalam rentangan waktu yang terdekat untuk meningkatkan kecenderungan pengulangan respon yang telah dilakukan.Sama dengan yang dikemukakan Prayitno bahwa penguatan (reinforcement) merupakan upaya untuk mendorong diulanginya lagi (sesering mungkin) tingkah laku yang dianggap baik oleh si pelaku. Penguatan diberikan dengan pertimbangan: tepat sasaran, tepat waktu dan tempat, tepat isi, tepat cara, dan tepat orang yang memberikannya.
Secara umum ada dua bentuk penguatan atau reinforcement yaitu reinforcement positif dan negative. Reinforcement yang diberikan kepada siswa baik positif maupun negatif dengan prosedur yang tepat akan dapat memberikan manfaat dalam proses konseling.
C. TUJUAN
Adapun tujuan dari teknik renforcement ini antara lain adalah:
1. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya
2. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan
3. Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan
D. ASUMSI
1. individu sangat dipengaruhi oleh lingkungannya
2. perilaku dapat dibentuk dan diubah sebagai hasil dari interaksi individu dengan lingkungan
E. RELEVANSI
F. PRINSIP
Ada tiga prinsip dasar teori ini. Ini adalah Aturan Konsekuensi. Tiga Aturan menggambarkan hasil logis yang biasanya terjadi setelah konsekuensi.
1. Konsekuensi yang memberikan Rewards meningkatkan perilaku.
2. Konsekuensi Hukuman yang memberikan suatu perilaku penurunan.
3. Konsekuensi yang tidak memberikan Hadiah atau Hukuman memadamkan suatu perilaku.
Aturan ini memberikan cetak biru yang sangat baik untuk pengaruh. Jika Anda ingin meningkatkan perilaku (membuatnya lebih sering, lebih intens, lebih mungkin), maka saat perilaku ditampilkan, memberikan Konsekuensi dari pahala. Jika Anda ingin mengurangi perilaku (membuatnya lebih jarang, kurang kuat, kurang mungkin), maka saat perilaku ditampilkan, menyediakan Konsekuensi Hukuman. Akhirnya, jika Anda menginginkan perilaku untuk memadamkan (hilang, jatuh dari repertoar perilaku), maka saat perilaku ditampilkan, maka tidak memberikan Konsekuensi (mengabaikan perilaku).
Apa yang terjadi adalah ini: Penguatan teori ini adalah teori fungsional. Itu berarti semua komponennya didefinisikan oleh fungsi mereka (bagaimana mereka bekerja) daripada oleh struktur (bagaimana mereka terlihat). Dengan demikian, tidak ada Konsekuensi buku resep di mana seorang guru bisa melihat dalam bab, “Kelima Grade Rewards untuk Anak-anak,” dan menemukan daftar panjang hal-hal bermanfaat untuk digunakan sebagai konsekuensi. Memikirkan hal ini sebentar.
Banyak anak-anak menemukan permen untuk menjadi bermanfaat. Jika mereka duduk diam di kursi mereka selama lima menit dan Anda memberikan mereka masing-masing yang manis, anak-anak akan belajar untuk duduk diam. Permen (Konsekuensi dari Reward) digunakan untuk meningkatkan perilaku duduk dengan tenang. Jadi, kami telah menemukan pahala dan dapat meletakkannya di Konsekuensi resepkan?
Dan kemudian waktu berikutnya pasangan Anda menghabiskan sore kotor membersihkan beberapa sudut ruang bawah tanah yang perlu anda lakukan adalah memberi mereka permen dan minggu depan Anda akan menemukan mereka di kamar mandi menggosok keluar dari bak mandi, kan? Tentu saja tidak.
Permen berfungsi sebagai hadiah dalam beberapa keadaan, tetapi permen tidak memiliki pengaruh pada orang lainSifat fungsional teori penguatan penting untuk mengerti. Ini menjelaskan mengapa kadang-kadang teori tampaknya tidak benar. Sebuah contoh: ketika Sally Goodchild mengganggu kelas, Mrs Reinforcer menghentikan kelas, Sally mengatakan dia gadis nakal yang melanggar Peraturan 24 dan sekarang harus meninggalkan kelas dan pergi ke kantor prinsip. Ouch Yang benar-benar sakit Sally Goodchild. Dan Mrs Reinforcer tahu bahwa ketika Sally kembali, ia tidak akan mengganggu. Mrs Reinforcer kemudian pergi ke ruang guru dan menyanyikan puji-pujian dari teori ini benar-benar hebat.
Yah, kau tidak tahu bahwa anak-anak lain di kelas menyaksikan acara ini dengan penuh minat. Dan ketika Bill Buruk mengganggu kelas, Mrs Reinforcer menghentikan kelas, menceritakan Buruk Bill dia anak nakal yang melanggar Peraturan 24 dan sekarang harus meninggalkan kelas dan pergi ke kantor prinsip. Ouch Yang benar-benar sakit Buruk Bill. Dan Mrs Reinforcer tahu kapan Buruk Bill datang kembali ke kelas, ia tidak akan mengganggu, karena ia akan ingin menghindari yang jahat Punisher.
Yah, kita semua tahu apa yang terjadi selanjutnya. Buruk Bill datang kembali ke kelas, segera mengganggu pelajaran, Mrs Reinforcer whacks dia dengan Konsekuensi Hukuman, dan Buruk Bill terus mengganggu, jadi dia keluar dari kelas. Mrs Reinforcer adalah benar-benar bingung pada saat ini dan dia kembali ke ruang guru mengeluh tentang teori penguatan bodoh ini.
Untuk memahami jika Anda memiliki pahala, Anda harus mengamati efeknya. Jika Konsekuensi meningkatkan perilaku yang Anda inginkan untuk meningkatkan, biola, Anda memiliki pahala. Jika Konsekuensi mengurangi perilaku yang Anda ingin menurunkan, maka Anda memiliki sebuah azab. Kebanyakan guru telah memiliki pengalaman malang Mrs Reinforcer. Mereka telah bertahan dalam memberikan Konsekuensi Hukuman dan lihatlah, anak terus melakukan hal yang buruk. Jika perilaku tidak menambah atau mengurangi cara yang Anda inginkan, maka Anda perlu memikirkan kembali imbalan dan hukuman Anda.
Singkatnya, titik utama dari teori ini adalah bahwa pengaruh konsekuensi perilaku. Bermanfaat meningkatkan konsekuensi perilaku. Penurunan konsekuensi menghukum perilaku. Tidak ada konsekuensi memadamkan suatu perilaku. Akhirnya, sebuah konsekuensi yang dikenal dengan fungsi (bagaimana ia beroperasi).
G. MANFAAT
1. Membuat konseli terdorong untuk merubah tingkah lakunya. Penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku konseli.
2. Dapat mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan
3. Dapat memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan
4. Dapat mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film, tape recorder, atau contoh nyata langsung)
5. Lebih mudah mengubah tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrakpemberian reinforcement
H. KENDALA
reinforcement adalah alat pengaruh yang sangat kuat, memang memiliki beberapa keterbatasan serius. Untuk menggunakannya secara efektif, Anda harus menyadari kesulitan dalam aplikasi ini.
1. Sulit untuk mengidentifikasi imbalan dan hukuman.
Sebagaimana dicatat sebelumnya dalam bab ini, reinforcers diidentifikasi oleh fungsi mereka. Dengan demikian, tidak ada daftar buku masak Hadiah dan Hukuman. Permen meningkatkan kerjasama siswa, tetapi tidak mempunyai nilai sebagai pembayaran kepada pekerja pabrik. Dengan demikian, Anda harus mengamati siswa Anda sangat hati-hati untuk menemukan hal-hal yang mereka anggap paling menguntungkan atau menghukum.
Dan sekali Anda menemukan hal-hal yang berfungsi secara efektif, Anda bisa serius kecewa untuk menemukan bahwa mereka kehilangan nilai dari waktu ke waktu. Ketika siswa menjadi terbiasa untuk menerima beberapa Reward (katakanlah permen atau stiker), mereka dapat tumbuh bosan dari waktu ke waktu. Ini mungkin merupakan tantangan terbesar bagi setiap guru. Menemukan Imbalan dan Hukuman yang baik membutuhkan banyak pengalaman dan wawasan.
2. Anda harus mengontrol semua sumber penguatan.
Guru sering harus bersaing dengan siswa kelompok sebaya. Peers memberikan sumber yang sangat penting penguatan, kadang-kadang lebih besar daripada pahala atau Penghukuman seorang guru bisa memberi. Orangtua anak dan keluarga adalah penguatan sumber lain. Guru kadang-kadang berpikir aplikasi penguatan mereka gagal karena guru tidak menggunakan “hak” Hadiah atau Penghukuman. Sebaliknya masalah mungkin bahwa mahasiswa menginginkan atau memerlukan kelompok reinforcers rekan menawarkan lebih dari guru yang memberikan.
4. Perubahan internal bisa sulit untuk membuat.
Salah satu efek samping dari penguatan teori adalah bahwa anak-anak belajar untuk melakukan perilaku kita ingin mereka untuk menunjukkan hanya ketika Dapatkan tersedia. Jika Reward tidak ada, maka si anak tidak akan muncul kerjasama atau usaha yang baik atau perhatian atau keramahan. Anak menjadi sedikit lebih dari monyet terlatih yang melakukan trik, kemudian memegang tangan menunggu pisang. Anak tidak diinternalisasi perilaku tetapi membutuhkan proses penuh (when-Do-Get). Ini berarti bahwa guru harus selalu berjalan di sekitar memberikan konsekuensi yang benar perilaku yang dikehendaki pada waktu yang tepat. Dalam contoh satu keajaiban yang sedang dilatih, guru atau siswa.
Anda juga harus menyadari bahwa penguatan terbaik dengan heuristik pemikir ( “Jika saya mendapatkan pahala, maka hal itu baik. Jika saya mendapatkan azab, maka hal yang buruk. “). Tidak memerlukan pemikiran yang sistematis. Seperti yang kita ditemukan dalam Proses Dual bab, pengaruh dengan pemikir heuristik sering singkat situasi hidup dan biasanya tergantung. Pengaruh hanya berlangsung selama isyarat (dalam hal ini Hadiah atau hukuman) tersedia. Ini berarti anda harus menjaga makanan tetap penguatan isyarat untuk menjaga tindakan yang Anda inginkan.
5. Menghukum adalah sulit untuk melakukannya dengan baik.
Hukuman adalah konsekuensi yang sangat kuat untuk semua makhluk hidup. Apakah itu adalah monyet, seekor burung merpati, seorang anak, atau orang dewasa, menghukum konsekuensi dapat menghasilkan sangat cepat, kuat, dan mudah diingat perubahan. Masalahnya adalah bahwa tuntutan hukuman yang efektif syarat tertentu.
Penelitian dengan jelas menunjukkan bahwa hukuman yang efektif harus: 1) segera,
2) intens,
3) tidak dapat dihindari, dan
4) konsisten.
Jika Anda tidak dapat memberikan hukuman di bawah kondisi di atas, maka hukuman cenderung gagal.
Dengan demikian, hukuman yang terbaik akan menjadi sesuatu yang seperti ini. Seorang anak apakah berpikiran buruk, kemudian: anak ini langsung ditempatkan di ruang yang gelap yang penuh dengan ular dan serangga dan yg diliputi dgn hutan tanaman merambat, sementara suara-suara aneh dan menakutkan menjerit, “Jangan melakukan hal buruk, Jangan melakukan hal buruk. ” Dan segera setelah anak berhenti melakukan hal buruk, anak itu kembali di kelas, aman dan sehat.
Meskipun contoh ini adalah berlebihan, Anda mendapatkan titik. Kita tahu bahwa sebagian besar pelaku, hampir semua sekolah papan, dan semua orang tua akan menentang hukuman semacam ini. Oleh karena itu, salah satu aspek yang paling kuat penguatan secara efektif diambil dari guru. Namun, beberapa guru tetap dalam menggunakan bentuk-bentuk hukuman yang lemah, sering kali gagal dan frustasi dengan efek.
6. Siswa dapat datang untuk membenci guru yang menggunakan hukuman.
Hukuman adalah, menurut definisi, sebuah permusuhan, konsekuensi menyakitkan. Orang mengalami keadaan emosional yang sangat negatif ketika mereka dihukum. Dan, seperti yang kita pelajari dalam bab penyejuk Klasik, sangat mudah untuk kondisi emosi. Jadi, ketika seorang guru menggunakan hukuman, para mahasiswa mungkin akan merasa marah atau takut atau putus asa dan mereka kemudian akan menghubungkan atau mengasosiasikan perasaan negatif ini dengan sumber dari hukuman, guru.
Ini bukan keadaan baik. Sebagai seorang guru anda ingin menggunakan pengaruh alat untuk mencapai tujuan pembelajaran penting. Jika alat menghasilkan pengaruh mempengaruhi negatif untuk guru, guru pada dasarnya adalah menembak dirinya di kaki. Tentu, hukuman membantu mencapai satu tujuan, tetapi pada saat yang sama hukuman membuat tujuan-tujuan lain yang lebih sulit untuk dicapai.
7. Mudah untuk memperkuat satu merpati, tetapi seluruh kawanan?
Teori penguatan paling kuat telah diuji dengan binatang, khususnya burung merpati. Dan bahwa penelitian dengan merpati telah menghasilkan hasil yang luar biasa. Masalah bagi guru adalah: penelitian menggunakan prinsip penguatan pada satu merpati pada suatu waktu. Guru mengajar seluruh kawanan. Yang ukuran sebuah kelas membawa dimensi yang sangat sulit ke aplikasi yang tepat teori penguatan.
I. PROSEDUR APLIKASI
Peraturan Konsekuensi digunakan dalam tiga langkah yang menentukan urutan proses penguatan. Kita dapat menyebut langkah ini, when-Do-Get.
Langkah 1: ketika dalam beberapa situasi,
Langkah 2: Melakukan beberapa tingkah laku,
Langkah 3: mendapatkan beberapa konsekuensi.
Menurut Teori Penguatan, orang belajar beberapa hal selama proses penguatan. Pertama, mereka belajar bahwa perilaku tertentu (Langkah 2: do) mengakibatkan konsekuensi (Langkah 3: Get). Ini adalah aplikasi yang paling jelas dari Aturan Konsekuensi. Seorang siswa menyadari bahwa jika ia tidak mengerjakan dengan baik pada tugas (do), maka dia akan mendapatkan Konsekuensi ‘Menghargai stiker yang cantik (Get). Siswa lain menemukan bahwa jika ia berbicara dengan tidak tepat (Do), maka ia akan menerima konsekuensi Menghukum penurunan waktu istirahat (Get).
Tapi kedua, dan sama pentingnya, orang belajar bahwa Do-Dapatkan hanya bekerja dalam situasi tertentu (Langkah 1: when). Sebagai contoh, seorang anak mungkin menemukan bahwa ketika ia bersama orang tuanya (when) dan dia melempar marah-marah (do), dia mempermalukan mereka dan mereka memberikan perhatian Rewards seperti, mainan, permen, atau apa pun (Get). Sekarang, ketika anak ini hits sekolah dan mencoba trik ini, dia adalah kejam kecewa ketika guru memberikan Konsekuensi Menghukum daripada Rewarding Konsekuensi. Maka ini menjadi sederhana. Ketika di beberapa situasi-Do beberapa perilaku-Dapatkan konsekuensi. Dan hanya ada tiga konsekuensi, Menghargai, Menghukum, dan Mengabaikan.
DAFTAR PUSTAKA

riannyarahayu.wordpress.com
Hill, W.1985. Learning: A survey of psychological interpretations. (4th. Ed.). New York:Harper and Row.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/15/teknik-khusus-konseling.online 15 September 2009
http://konselingIndonesia.com/2009/01/15/Reinforcement-Prayitno.online 26 September 2009
Kazdin, Alan E.1994.Behavior Modification in Applied Setting.California : Brooks/ Cole Publishing Company
Martin, Garry. Joseph Pear.2003. Behavior Modification :What It Is and How to Do It. Seventh Edition. New Jersey:Prentice Hall. Inc
Skinner, B.1953. Science and human behavior. New York:MacMillan.
Skinner, B.1968. The technology of teaching. New York:Appleton-Crofts
Martin, Garry. Joseph Pear.2003.Behavior Modification : What It Is and How to Do It. Seventh Edition. New Jersey:Prentice Hall. Inc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar